Blog

Spanyol, Jembatan Sejarah Islam dan Eropa

Malam tiba di Granada, Badiaa Lafdaili dan Said Jellal meninggalkan tas mereka di hotel dan pergi ke Kota Andalusia untuk menapak tilas peninggalan kejayaan Islam di masa lampau. Pasangan Maroko itu sudah berada di Bin al Madin, untuk berada di salah satu kota wisata aslinya bernama Benalmadena.

 

“Andalusia adalah tempat kelahiran penyair dan seniman besar Arab,” kata Lafdaili, yang juga seorang guru sastra Arab, sebagaimana diberitakanelpais.com, Senin (14/1).

 

Suaminya, Said Jellal, yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan menga takan, ketika berkunjung ke Spanyol, satusa tunya kekurangan negaradi sana adalah su litnya mencari restoran halal.

 

Laifdaili dan Jellal adalah representasi generasi milenial Muslim dari negara-negara de ngan ekonomi yang tumbuh cepat. Mereka ingin melihat bagian lain dari belahan dunia ini untuk hiburan.

 

Spanyol dianggap oleh banyak orang sebagai destinasi yang tak boleh dile wat kan karena negara ini merupakan jembatan antara Eropa dan Islam. Sejarahnya telah meninggalkan banyak jejak selama lima abad di bawah kekuasaan pemerintahan Islam.

 

Orang-orang berpikir bahwa wisata halal adalah setengah bepergian, setengah ibadah, tetapi bukan hanya itu. Muslim ingin melihat hal-hal yang menarik bagi me reka, tetapi tanpa mengorbankan prak tik ke agama an mereka, kata Fazal Barhadeen dari Crescent Rating, lembaga yang memberi peringkat hotel dan restoran sesuai dengan kepatuhan mereka pada ajaran Islam.

 

Spanyol memiliki potensi wisata halal yang luar biasa, meski ada saja kekurangan yang harus dilengkapi. Satu hal yang men jadi tantangan yang menyulitkan Muslim ketika berwisata ke sana adalah restoran atau hotel yang bersertifikat halal. Jumlah nya masih minim.

 

Meski begitu, jumlah pengunjung Mus lim ke Spanyol terus bertambah. Ada pe ning katan 85 persen dalam kedatangan turis asal Saudi pada 2013 dibandingkan dengan tahun sebelumnya (42 ribu turis). Sementara jumlah pengunjung Aljazair naik 30 persen untuk periode yang sama.

 

Kemudian ada 182 ribu orang Turki mendatangi Spanyol. Angka wisatawan kesana meningkat 57 persen.

 

 Sumber : Republika.co.id

Militer di Masa Dinasti-Dinasti Islam

Militer di Masa Dinasti-Dinasti Islam

Pada masa Dinasti Umayyah, kantor tentara yang sebelumnya telah diprakarsai oleh Umar bin Khattab terus mengalami pengorganisasian dan perkembangan. Institusi militer pun dibagi menjadi tiga, yakni angkatan darat (al-Jund), angkatan laut (al-Bahriyah), dan kepolisian (as-Syurthah).

 

Angkatan bersenjata awalnya masih diisi oleh orang-orang Arab. Namun, setelah wilayah kekuasaan Islam meluas sampai ke Afrika Utara, orang-orang luar Arab (termasuk bangsa Barbar) juga ikut direkrut menjadi tentara.

 

Ketika akhirnya banyak tentara Muslim yang pensiun dari jihad dan perang, Pemerintah Umayyah pun mulai memperkenalkan sistem wamil menyusul diterbitkannya Nidham at-Tajnid al-Ijbari (Undang-Undang Wajib Militer). “Aturan tersebut dikeluarkan semasa pimpinan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (yang memerintah pada 685-705),” ujar Abu Zayd Shalaby.

 

Sistem perbudakan militer secara luas diterapkan di Timur Tengah pada masa Dinasti Abbasiyah. Praktik tersebut berawal dari pembentukan korps budak prajurit (yang juga dikenal dengan istilah ghulam atau mamluk) oleh Khalifah al-Mu’tasim pada abad ke-9. Oleh beberapa kalangan, sistem ini dianggap sebagai varian lain dari wajib militer.

 

“Korps budak-prajurit pada masa Abbasiyah diisi oleh orang-orang Turki. Namun, budak-budak itu pada akhirnya justru mendominasi pemerintahan dan membangun pola di seluruh kelas militer dunia Islam. Pengaruh mereka terus berlanjut hingga masa Dinasti Ottoman,” ujar sejarawan Barat, Bernard Lewis, dalam buku Race and Slavery in the Middle East.

 

 Sumber : Republika.co.id

 

Seluruh Jamaah Umroh WAJIB melakukan perekaman “BIOMETRIK” VFS Tasheel sebagai persyaratan untuk mendapatkan VISA Umroh.

Mengingat salah satu persyaratan penerbitan Visa Umroh oleh Kedutaan Besar Saudi Arabia oleh sebab itu maka mulai keberangkatan 17 Desember 2018 sudah mulai diperlakukan perekaman biometrik calon jamaah umroh Sidik Jari dan Foto Wajah.

 

Untuk pelaksanaan rekam data biometrik ini pemerintah Saudi telah menunjuk sebuah perusahaan atau kantor layanan Visa dan bio fitur VFS (Visa Facilities Services) TasHeel yang telah memiliki 34 Kantor yang tersebar di seluruh Indonesia.